Karma Harta Warisan

 Orang tua yang kaya raya akan meninggalkan harta Warisan untuk anak-anaknya. Seperti orang tua pak Prapto yang telah meninggalkan tanah Warisan untuk Pak Prapto dan saudara-saudaranya. Pak Prapto 6 bersaudara, dan semua dapat jatah tanah. Suatu ketika Adik Pak Prapto yang bernama Adi pergi merantau ke luar Pulau dan menitipkan tanah jatah warisannya kepada pak Prapto untuk dikelola dan di bagi hasilnya. Pak Prapto menyetujuinya dan mengelola tanah itu. 

"Mas, tanah ini mas Prapto saja yang mengelola. Buat nyekolahin anak-anaknya mas. Tapi nanti sewaktu-waktu bisa saya ambil lagi ya" . 

"Iya di, makasih kamu sudah mau bantu aku. Nanti setiap panen sebagian aku kirimkan ke kamu juga".

Adi iba melihat kondisi perekonomian kakaknya saat itu. Pak Prapto hanya seorang guru swasta, memiliki 5 anak dengan jarak lahir berdekatan. Sebagai adik, dia ingin membantu kakaknya. Hidupnya di perantauan sudah mapan, maka tanah warisannya biar dimanfaatkan kakaknya yang lebih membutuhkan. 

Dari kesepakatan itu, Pak Prapto menggarap tanah Adi. Hasil dari tanah itu ia pergunakan untuk menyekolahkan anak-anaknya yang jumlahnya ada 5 orang perempuan semuanya. Pak Prapto sangat merasa terbantu dengan adanya tanah Warisan milik adiknya itu. Dia juga tidak pernah lupa untuk memberikan sebagian hasil dari tanah itu kepada Adi. 

Adi telah beranak pinak di perantauan. Dia juga sudah memiliki tempat tinggal dan sumber penghasilan disana. Dia tidak berniat untu kembali ke kampung halamannya dan menetap di tempat perantauannya. 

Pak Prapto semakin sukses mengelola tanah milik Adi adiknya. Dia bisa meluluskan semua anak-anaknya dari jenjang SMA. Bahkan ada satu anaknya yang lulus Sarjana. Hubungan Pak Prapto dengan Adi masih baik, karena Pak Prapto selalu menepati janji. 

Suatu ketika, adik Pak Prapto yang perempuan bernama Wati tidak suka melihat pak Prapto semakin kaya. Dia protes kepada Adi kakaknya agar tanah itu dia saja yang mengelola bukan Pak Prapto. Adi tidak bisa menentukan sikap, karena Wati dan Pak Prapto ada saudara kandungnya.

"Halo Mas Adi, kamu ini gimana sih. Mau aja dimanfaatin sama mas Prapto. Dia tambah kaya sekarang" 

"Aku yang menawari bantuan, bukan mas Prapto yang memanfaatkan aku" 

"Yaudah, sekarang gantian aku dong mas bantuin. Mas Prapto sdah kaya, anak-anaknya juga sudah pada lulus". 

Wati yang tidak sabaran akhirnya melabrak Dini istri Pak Prapto. Dia mengomel habis-habisan. Bahkan menghina Dini. Dini sangat sakit hati dan mengadu kepada suaminya. Pak Prapto sangat kecewa dengan sikap Wati, akhirnya tanah itu diserahkan kepada Wati. 

Wati mengambil alih pengelolaan tanah Adi. Dia menanami tanah itu dengan sayuran. Wati dibantu suaminya. Wati sangat senang karena bisa mengelola tanah Adi. Adi sebagai kakak hanya bisa diam dan menerima. 

Suatu hari, Dini melihat suami Wati tengah mencangkuli tanah Adi. Dia sangat kaget dan marah. Dia ingat apa yang dilakukan Wati kepadanya. Saking marahnya dia sampai menggigit bibirnya dan menghentakkan kakinya sampai 3 kali. Entah apa yang ada di hatinya saat itu. 

Seiring berjalannya waktu, Wati mulai memanen sayuran yang ia tanam dengan suaminya. Tetapi bukannya untung, setiap kali dapat uang hasil panen selalu saja ada pengeluaran atau kejadian tidak terduga. 

Panen pertama, Wati dan suaminya menjual hasil panenya ke pasar dan mendapatkan sejumlah uang. Saat perjalanan pulang, Tiba-tiba ban motornya pecah. Akhirnya uang hasil panen terpakai untuk mengganti ban motor. 

Panen kedua, saat itu Wati tidak ikut jual hasil panen ke Pasar. Suami Wati berangkat sendiri. Ketika perjalanan pulang, tiba-tiba tas yang di gantungkan di pundak suami Wati yang berisi uang disabet pencuri. Suami Wati sangat kaget dan mengejar pencuri itu, tapi usahanya nihil. Pencuri itu melaju kencang dan tak bisa dikejar suami Wati. 

Panen ketiga, saat itu hasil panen lebih banyak dari sebelumnya. Wati sangat senang, dia bersama suaminya berangkat ke pasar untuk menjual hasil panennya. Dengan harapan yang besar, mereka sangat semangat pergi ke Pasar. Benar saja, mereka untung banyak sekali kali ini. Dagangan mereka sudah ludes dalam waktu sekejap. Akhirnya Wati dan suaminya melenggang pulang ke rumah dengan perasaan yang sangat senang karena dapat uang banyak. Dalam perjalanan Wati dan suaminya asyik mengobrol. Tiba-tiba dari arah berlawanan ada Truck kehilangan kendali dan menabrak motor Wati dan suaminya. Wati terpental sejauh 2 meter, sedangkan suaminya terlindas truck. Mereka meninggal seketika. 


Komentar